: :

Navbar Bawah

Thursday, July 18, 2013

Kesalahan Umum Fresh Graduate Ketika Mencari Kerja

Ketika baru lulus kuliah, banyak lulusan perguruan tinggi (fresh graduate) melakukan kesalahan yang mungkin dapat mengubah langkah mereka berikutnya dalam dunia kerja. Kenali kesalahan-kesalahan umum ini, dan jangan sampai Anda salah langkah hanya karena kesalahan kecil yang tidak Anda sadari.

Kami menyarikan dari Beyond.com 5 kesalahan umum yang biasa dibuat oleh para pencari kerja baru berikut ini:
1. Membiarkan Orang Tua Menghubungi Perusahaan yang Potensial
Anda mungkin akan kaget dengan jumlah pelamar yang melibatkan orang tua mereka dalam mencari pekerjaan. Meskipun orang tua Anda tidak memungkinkan untuk berbicara kepada perusahaan yang potensial, namun seringkali mereka memiliki beberapa saran yang bagus untuk Anda dan menjadi sumber informasi yang berharga. Namun perlu dipastikan bahwa hal ini tidak menimbulkan kesan bahwa Anda tergantung pada orang tua dalam mengurus hal ini.
2. Bersihkan Akun-akun Social Media Anda
Jangan lupa bersihkan semua akun sosial media Anda dari hal-hal yang Anda tidak ingin dilihat oleh calon perusahaan yang akan mempekerjakan Anda. Banyak pelamar kerja yang gagal ketika perusahaan menemukan sesuatu tentang mereka melalui pencarian google atau di social media.
3. Bangun Jaringan Profesional
Sebagai seorang yang baru lulus, Anda mungkin belum memliki banyak jejaring profesional, tetapi jangan lupa Anda memiliki kedua orang tua atau keluarga. Beritahu mereka bahwa Anda sedang mencari pekerjaan. Biarkan mereka tahu bidang pekerjaan apa yang Anda inginkan. Kesalahan yang sering dilakukan fresh graduate adalah meremehkan kekuatan jaringan profesional ini.
4. Selalu Ucapkan Terimakasih

Di akhir interview, jangan lupa untuk selalu mengucapkan terima kasih kepada interviewer, atau Anda bisa juga mengirim tulisan berupa ucapan terima kasih setelah wawancara. Tidak ada alasan untuk berperilaku buruk selama wawancara, tunjukkan kepada mereka bahwa Anda telah terbiasa beretika profesional, hal tersebut akan membuat mereka terkesan.
5. Ubahlah Sapaan Voice Mail
Ini juga sering dilupakan para fresh graduate. Saat berada di perguruan tinggi, mungkin Anda memiliki pesan suara yang lucu atau nada dering yang kekanak-kanakan. Namun ketika perusahaan menghubungi Anda, pastikan pesan suara Anda tidak membuat mereka tidak jadi mempekerjakan Anda.


sumber
http://www.portalhr.com/
Read More --►

5 Tips Sukses Saat Interview

Interview di perusahaan kerap kali membuat calon karyawan stres. Tahap ini biasanya adalah tahap yang sangat menentukan bagi calon karyawan, dan inilah saat penting bagi Anda untuk meyakinkan perusahaan bahwa Anda memenuhi syarat untuk bekerja.
Berikut ini ada beberapa tips yang kami kutip dari careerleak.com yang dapat Anda perhatikan agar dapat sukses melalui interview:

1. Persiapkan dengan Baik
Persiapkanlah segala sesuatu sebelum interview dilaksanakan, seperti membuat daftar apa saja yang dibutuhkan untuk wawancara. Misalnya membawa salinan resume, menulis lokasi perusahaan, dan mengetahui berapa lama Anda akan tiba di tempat tersebut. Yang tidak kalah pentingnya ialah jangan sampai terlambat.

2. Berpakaian dengan Tepat
Pepatah lama mengatakan, “Anda tidak akan pernah mendapatkan kesempatan kedua, untuk membuat kesan pertama.” Penampilan memiliki peranan besar bagi Anda, karena pada saat itu penampilan menjadi penilaian apakah Anda terlihat profesional atau ceroboh. Ketika Anda memutuskan apa yang akan dikenakan pada saat wawancara, sebaiknya terlebih dahulu mengetahui seperti apa budaya di perusahaan tersebut. Apakah Anda interview di perusahaan yang karyawannya memakai pakaian rapi seperti jas atau berpakaian lebih santai seperti mengenakan t-shirt dan celana jeans.

3. Mengetahui Perusahaan yang Anda Lamar
Sebelum interview, Anda diharapkan dapat mengetahui perusahaan terkait, minimal tahu perusahaan tersebut bergerak di bidang apa. Anda bisa membuka web perusahaan terlebih dahulu. Hal tersebut dilakukan agar Anda bisa mengupdate kabar terbaru dari si perusahaan. Dengan mengakrabkan diri Anda kepada perusahaan secara langsung akan memberikan keunggulan atas pesaing Anda.

4. Buat kontak mata dengan Interviewer
Saat bertemu dengan interviewer, buatlah kontak mata yang positif. Kontak mata sangatlah penting, karena merupakan salah satu bentuk komunikasi non-verbal yang kuat. Kualitas kepribadian seseorang dapat dideteksi hanya berdasarkan kontak mata. Selain itu membuat kontak mata langsung dapat mengkomunikasikan rasa percaya diri juga harga diri Anda yang tinggi. Jadi sangatlah penting membuat kontak mata saat pertama kali bertemu dengan pewawancara saat berjabat tangan. Melakukan kontak mata tidak hanya saat Anda berbicara, tetapi juga saat Anda mendengar.

5. Tahu Persis Apa Keterampilan Anda
Anda harus mengingat resume yang telah Anda buat, keterampilan apa saja yang Anda tulis. Selain itu, efektiflah dalam mengkomunikasikan keterampilan dan kualifikasi untuk interviewer. Jika mereka meminta menjelaskan apa saja yang dilakukan di pekerjaan terakhir Anda, maka siapkanlah jawaban yang didukung oleh contoh-contoh konkret. Interviewer biasanya mengetahui apa saja yang terkait dengan Anda melalui resume


Sumber
http://www.portalhr.com
Read More --►

Pertahankan Karyawan dengan Training

Training merupakan salah satu langkah yang dipandang memiliki efek sustainable untuk mempertahankan dan meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Menurut David Knowles dalam seminar Leadership Crestcom, 2 dari 5 perusahaan memilih training (pelatihan) sebagai upaya nyata untuk perbaikan kinerja karyawannya.
Hal pertama yang dibenarkan David adalah terkadang perusahaan tidak bisa mendapatkan talent yang 100% bagus. Untuk itu pelatihan merupakan investasi yang efektif dilakukan di awal setelah perekrutan.
Berikut ini 5 cara untuk meningkatkan kinerja karyawan yang kami kutip dari seminar tersebut:

1. Berinvestasilah pada Training
Anda pasti mengakui bahwa perusahaan pasti akan mempertahankan top talent-nya sebaik mungkin. Upaya itu bisa dilakukan dengan menjalankan program training untuk mereka. Investasikan uang perusahaan untuk pengembangan karyawan, dijamin mereka akan menikmati proses tersebut. Semakin peduli Anda dengan training semakin dekat hal itu membawa perusahaan Anda menuju pencapaian yang lebih besar.

2. Mulai Awal dan Tidak Monoton
Selain pelaksanaan training yang sebaiknya dilakukan di awal, menurut salah satu peserta dalam seminar ini, perusahaan mereka juga mengakui bahwa cara-cara training tidak harus bersifat konservatif. Anda bisa meluangkan waktu sekitar 10-15 menit untuk memberikan pelatihan secara berkala kepada karyawan, hal itu disebut short training. Intinya, buatlah pelaksanaan training yang tidak monoton, karena karyawan kini makin kritis dan menyukai hal-hal yang berbeda.

3. Berkesinambungan
Lakukan training secara berkesinambungan, sehingga tujuan pelatihan akan terasa nyata oleh karyawan. Menurut David, kita bisa mengkreasikan bentuk training dengan berbagai macam cara. Seperti training saat makan siang bersama atau meeting di tempat yang menyegarkan karyawan. Singkatnya training membutuhkan proses, bukan jika sudah di-training maka karyawan akan improve dengan sendirinya. Namun kedisiplinan para leader dalam melatih karyawannya secara terbuka juga sangat membantu untuk membuat tujuan training tersebut tercapai.

4. Adaptasikan Training
Ini yang mesti diperhatikan, sesuaikan pelatihan berdasarkan keperluan karyawan. Jangan terjebak dengan program-program yang terkesan ‘super’, namun essensinya tidak pas dengan culture perusahaan Anda. Untuk itu, biasanya sang trainer akan menganalisa terlebih dahulu keadaan perusahaan sebelum melakukan training. Karena belum tentu training A akan cocok dengan perusahaan Anda, di situ pentingnya observasi sebelum pelaksanaan. Selain buang waktu dan biaya, training yang salah sasaran hanya akan membuat perusahaan Anda merugi.

5. Penugasan Cross-functional
Menurut David Knowles, satu masalah yang ada di beberapa perusahaan adalah ‘silo’ mindset, dimana karyawan dalam satu divisi tidak tahu dan tidak peduli apa yang dijalankan oleh divisi lain. Padahal output dari satu divisi menjadi input untuk divisi lain.
Satu solusi yang disebutkan Lisa Ford adalah cross-functional assignment secara short-term (satu atau dua minggu). David mencontohkan jika seorang karyawan yang berasal dari accounting tidak ada salahnya ia masuk ke procurement untuk dua minggu, supaya bisa belajar bagaimana output dari accounting ke pekerjaan procurement.

Dari proses itu, kita akan belajar ‘empathy’ dengan kebutuhan ‘internal customer’, sehingga komunikasi dan koordinasi akan berjalan lebih baik. (*/@nurulmelisa)


Sumber : http://www.portalhr.com/tips/pertahankan-karyawan-dengan-training
Read More --►

10 Langkah Mudah Membuat Resume

1. Buat draft awal
Tulislah jabatan pekerjaan dan juga daily task anda di kantor. Baca lagi tulisan anda dan coba prioritaskan tanggung jawab anda di kantor sehari-harinya. Kira-kira jenis skill seperti apa yang anda butuhkan untuk menyelesaikan tanggung jawab tersebut? Adakah sesuatu yang anda lakukan pada masa jabatan anda sekarang yang membuat anda bangga? Bertanya pada diri sendiri membawa anda pada pembentukan frame of mind dengan kerangka CV/ Resume. Informasi yang anda butuhkan akan dengan sendirinya mengalir.

2. Pilih sebuah format
Setelah informasi yang dibutuhkan sudah lengkap, langkah selanjutnya adalah pengemasan informasi tersebut, yang bisa dipilih dari 3 jenis format standar, yaitu:

> The Chronological CV/ Resume: Bisa dikatakan standar industri, digunakan apabila pengalaman kerja anda stabil dengan setiap perpindahan kerja menandakan kemajuan dari sebelumnya. CV/ Resume tipe ini tidak disarankan bagi anda yang sering mengalami perpindahan pekerjaan atau pernah "tersedak tanggung jawab". 
> The Functional CV/ Resume: "Bagi anda yang pernah mengalami pengangguran untuk waktu yang cukup lama, Functional CV/ Resume adalah pilihan yang tepat. Dalam CV ini tidak perlu menuliskan tanggal mulai kerja atau nama perusahaan, karena yang lebih dicari adalah skills dan responsibilities."
> The Prioritised CV/ Resume: Format ini ditujukan bagi mereka yang tengah menjalani perubahan karir atau melamar pekerjaan yang sama sekali tidak berhubungan dengan bidangnya saat ini. Dalam penulisan, anda perlu memprioritaskan pengalaman kerja yang paling relevan dengan pekerjaan yang anda incar.
3. Susun CV/ Resume maksimum sebanyak 2 halaman
Tidak ada orang yang mau menghabiskan waktu membaca CV/ Resume yang panjang. Pasti membosankan.

4. Berhati-hati dengan content CV/ Resume Anda
Content CV/ Resume anda perlu disusun secara seksama, dengan pilihan kata dan gaya bahasa yang sesuai. Anggaplah CV/ Resume anda sebagai sejarah pengalaman kerja anda, dengan memberikan highlight pada kekuatan dan keahlian anda dalam problem-solving, contohnya "responsible" dan "achieved".

5. Penekanan pada "isi" di atas "gaya"
CV/ Resume anda harus diketik agar lebih mudah dibaca. Lupakan font indah atau grand gesture lainnya. Fokus pada konteks isi CV/ Resume anda!

6. Personalized content
CV/ Resume anda sejatinya menggunakan gaya bahasa formal namun sopan, namun terkadang penambahan gaya bahasa personal yang tentunya lebih akrab akan memberikan nilai tambah bagi CV/ Resume anda.

7. Hindari gaya bahasa yang "melebih-lebihkan"
Anda mungkin termasuk seorang manajer yang brilian di perusahaan tempat anda bekerja saat ini. Namun ketika menyusun CV/ Resume lebih baik hindari penekanan yang berlebihan pada achievement anda. Adanya ungkapan "teamwork" dalam achievement anda cenderung lebih dihargai.

8. Cek dan cek lagi ejaan pada CV/ Resume Anda
Skill memang penting untuk dijabarkan dalam sebuah CV/ Resume, tapi kesalahan pada ejaan akan sangat menurunkan poin bahkan mungkin sampai pada penolakan. Anda bisa mengajak seorang teman untuk memastikan CV/ Resume anda bebas dari kesalahan pengejaan.

9. Beritahu orang yang akan menjadi referensi Anda
Ada baiknya orang yang akan menjadi referensi anda dikonfirmasi terlebih dulu bahwa anda masih/ akan menggunakan namanya.

10. Simpan dulu pernyataan tentang "harga" Anda
Pernyataan besar kecilnya gaji anda tidak perlu dikeluarkan kecuali memang ditanyakan langsung kepada anda. Perbedaan antara menyatakan gaji sebelum dan sesudah ditanyakan ikut mempengaruhi keputusan apakah anda layak diterima atau tidak.
Read More --►

HAL HAL YANG MERISAUKAN PARA TENAGA KERJA

Apakah jabatan yang saya inginkan realistis? Bolehkah mengirimkan lamaran kerja ke perusahaan yang tidak sedang membuka lowongan? Apakah berkas lamaran kerja harus diprint berwarna agar lebih diperhatikan oleh HRD?

Ketika menyiapkan aplikasi untuk melamar pekerjaan, orang sering dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang merisaukan seperti itu, yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Kerisauan-kerisauan tersebut sudah menjadi klasik sehingga justru kontraproduktif. Berikut sejumlah pertanyaan yang paling sering diajukan oleh para pencari kerja.

Temukan jawabannya sehingga Anda bisa mempersiapkan diri sejak dini, dan lebih bisa memastikan apakah usaha Anda telah berada di jalan yang benar.

1. Bagaimana saya tahu, pekerjaan yang saya inginkan sesuai dengan kemampuan saya?
Satu-satunya cara untuk memastikannya adalah dengan menengok kembali ke masa awal Anda mencari kerja dan melihat apa yang  Anda dapat sekarang. Jika Anda mendapati diri Anda seperti membentur dinding –baik ketika mencari kerja lewat lembaga jasa penempatan, networking maupun internet– maka sadarilah bahwa cita-cita Anda tidak sesuai dengan realitas pasar. Artinya, Anda perlu menurunkan atau memikirkan kembali skala target Anda.

2. Saya ingin bekerja di Perusahaan A, tapi perusahaan tersebut tidak memasang info lowongan kerja, bagaimana cara terbaik untuk mendekatinya?
Cara terbaik adalah selalu mencoba (memanfaatkan) jaringan yang terhubung dengan perusahaan itu. Bisa melalui teman Anda, atau temannya teman Anda, yang jelas dia bisa memperkenalkan Anda dengan "orang dalam" perusahaan yang ingin Anda tuju. Orang tersebut tak harus berasal dari bagian atau departemen yang Anda inginkan.
Yang Anda perlukan hanya nama yang bisa mengubungkan Anda dengan pihak yang tepat. Setelah Anda mendapatkan nama, tulislah pesan yang mengungkapkan maksud Anda, dan menindaklanjutinya dengan menelepon. Tapi, jangan langsung bicara tentang pekerjaan melainkan mintalah kesempatan untuk bertemu.

3. Adakah sesuatu yang bisa dilakukan untuk membuat resume saya lebih menonjol dibandingkan yang lain?
 Sebenarnya tak banyak yang bisa Anda lakukan untuk mempercantik sebuah resume sehingga berbeda dari yang lain. Memakai tipografi yang tak biasa atau cetak-berwarna memang membuat resume Anda beda, tapi pengusaha concern dengan isi.
Kadang metode pengiriman tertentu lebih menyita perhatian, tapi dalam kompetisi yang ketat hal itu pun tak membantu. Hal terpenting adalah menyebutkan keahlian khusus yang Anda miliki dalam resume tersebut, yang relevan dengan posisi yang Anda incar.

4. Apa kesalahan paling umum yang dilakukan oleh pencari kerja dalam resume mereka? Kesalahan paling umum, sejauh ini, mencantumkan sebanyak-banyaknya fungsi dan tanggung jawab yang pernah dipegang di perusahaan sebelumnya. Satu saja fungsi dan tanggung jawab yang spesifik akan lebih membuat orang terkesan akan kemampuan Anda, dan secara otomatis lebih membantu orang lain mendeteksi kesesuaian Anda dengan perusahaan/jabatan yang sedang Anda lamar.
Kesalahan kedua, tidak cukup spesifik ketika menyebutkan kemampuan yang dimiliki. Perusahaan lebih tertarik dengan hal-hal khusus yang Anda kuasai.

5. Bagaimana cara terbaik membangun network?
 Tak ada cara "terbaik". Namun, yang penting adalah bagaimana memberdayakan semua sumber: keluarga, sahabat, asosiasi bisnis, mantan teman sekelas dan sebagainya. Anda harus berusaha "terlihat" dan tempatkan diri dalam berbagai situasi yang memberi Anda kesempatan untuk bertemu orang-orang baru.
Terpenting dari semua itu, ketika kesempatan telah didapat, manfaatkanlah sebaik-baiknya. Buatlah orang tahu apa yang sedang Anda cari.

6. Apa nasihat terpenting untuk orang yang akan memenuhi panggilan wawancara kerja?
Senantiasi tempatkan diri sesuai dengan orang yang mewawancarai. Ingatlah apa yang dia inginkan dari Anda: memastikan apakah Anda memiliki keahlian, atribut personal dan motivasi yang mendukung sukses dalam kerja. Yang harus Anda "jual" selama wawancara kerja adalah elemen-elemen itu: keahlian dan personalitas yang dapat memberi sumbangan penting untuk perusahaan yang sedang mewawancarai Anda.

7. Seberapa jauh saya harus jujur dalam menjawab pertanyaan wawancara kerja?
 Pada dasarnya, tentu, harus sejujur mungkin, sebenar mungkin. Tapi, tergantung juga dengan pertanyaan yang diajukan. Untuk pertanyaan yang jawabannya membutuhkan lebih banyak opini pribadi, misalnya, tentu tidak bisa diukur dengan salah atau benar, melainkan jawablah dengan meyakinkan. Intinya, tampilkan diri "sebenar" mungkin. Sekali Anda tampak meragukan, maka semua yang Anda katakan selama wawancara akan membuat pewawancara ragu.

8. Jika pewawancara memperlakukan saya secara tidak menyenangkan, apa yang harus saya lakukan?
Pertama, pastikan dulu apakah tindakan itu bagian dari skenario wawancara –misalnya, sengaja untuk menguji respon Anda terhadap tekanan. Ini memang jarang dilakukan, tapi bisa saja terjadi ketika kemampuan untuk bertahan di bawah tekanan merupakan kualifikasi yang dituntut oleh jabatan yang sedang Anda lamar.
Namun, jika yang Anda hadapi memang seorang pewawancara yang pada dasarnya "kurang ajar", tetaplah bersikap tenang, dan profesional. Dan, beruntunglah karena Anda tidak akan berurusan lagi dengan orang tersebut setelah wawancara selesai.
Read More --►

UNTUK ANDA PARA FRESH GRADUATED

Jika Anda baru lulus –atau masih calon– dari pendidikan tinggi, maka Anda sebenarnya tidak tahu banyak, seperti apa hari-hari yang akan Anda lewati di kantor –jika nanti Anda mendapatkan pekerjaan. Akan seperti apa pekerjaan Anda? Apa yang akan diharapkan oleh bos dan kolega terhadap diri Anda? Dunia kerja sedang mengalami perubahan dengan sangat drastis. Tipikal tempat kerja pada 2013 tampak sangat berbeda dari tipikal kantor pada 20 tahun yang lalu. Teknologi baru dan perubahan gaya hidup menuntut Anda untuk bekerja dengan cara yang berbeda dari orangtua Anda dulu.

Inilah kecenderungan utama yang perlu Anda cermati :

 1. Lingkungan kerja telah berubah. Dengan teknologi baru, orang bisa bekerja dengan lebih cerdas, dan menggunakan waktu lebih sedikit untuk hal-hal yang tidak produktif. Secara global, pekerja menghabiskan rata-rata satu jam untuk pergi ke kantor. Tapi, makin luas dan cepatnya koneksi internet memungkinkan mereka bekerja sedikitnya sekali dalam seminggu dari rumah, dan itu menghemat dua jam perjalanan ke kantor per hari.
Sebuah survei baru di Inggris memperlihatkan bahwa hampir separo dari perusahaan terbaik mengizinkan karyawan untuk mengerjakan tugas mereka di rumah. Tentu saja bekerja dari rumah menimbulkan pertanyaan, seperti bagaimana yang bersangkutan bisa fokus dan produktif. Tapi, teknologi juga mengatasi masalah itu dengan solusi-solusi seperti workstreaming, di mana orang bisa dipantau oleh atasan dengan perangkat online.
Seiring makin banyaknya karyawan yang bekerja dari rumah dan melahirkan apa yang disebut kantor virtual, banyak perusahaan mengurangi ruangan untuk karyawan. Bahkan, banyak karyawan kini tak punya meja di kantor. Mereka membawa laptop ke mana-mana, dari rumah ke kantor dan ketika bertemu klien. Di kantor, mereka bisa memakai meja mana saja yang tersedia. Bagi perusahaan, ini mengurangi biaya untuk listrik dan sewa ruang.
Pada sisi lain, ketika banyak perusahaan "mempersempit" kantor mereka, sejumlah perusahaan lain memperbanyak fasilitas untuk menarik talent terbaik mereka. Google misalnya, menyediakan kafetaria, salon, bengkel mobil, kelas bahasa, kelas senam dan voli pantai. Perusahaan lain berusaha menyediakan fasilitas-fasilitas khusus.

2. Selain lingkungan kerja, waktu untuk bekerja pun berubah. Rumus lama jam kerja, dari 9 hingga 5, kini ditantang untuk lebih fleksibel. Pada hari-hari tertentu, Anda harus menyelesaikan laporan sehingga pulang agak malam. Pada hari lain, Anda bisa pulang cepat untuk pergi ke tempat fitnes atau nonton pekan pemutaran film bersama teman-teman. Fleksibilitas menjadi aturan main baru yang dituntut di mana-mana. Jam kerja yang fleksibel tidak hanya memungkinkan Anda bekerja sesuai permintaan, tapi juga ketika suatu hari Anda bekerja lebih lama, Anda bisa mengambil libur sebagai gantinya pada hari lain.
Masih berkaitan dengan fleksibilitas kerja, kini makin banyak perusahaan yang memberikan cuti panjang bagi karyawan. Ini fasilitas yang menarik terutama bagi generasi muda –generasi Anda– yang ingin punya kesempatan sekali dalam setahun untuk bepergian jauh.

3. Sekarang, bagaimana dengan pekerjaan itu sendiri? Teknologi menjadi faktor terpenting. Makna "bekerja" berubah secara dramatis seiring dengan perubahan pada penggunaan teknologi. Sejumlah pekerjaan menjadi kuno, dan pekerjaan baru, muncul. Kini, kita menggunakan email, mengirim pesan instan, melakukan riset secara online dan memanfaatkan program-program komputer otomatis untuk menyelesaikan pekerjaan.
Anda akan memasuki dunia kerja yang telah diwarnai dengan pertumbuhan komputer game, dan sambil bekerja Anda berkirim SMS dan pesan instan kepada teman-teman. Anda diperhitungkan  sebagai generasi yang memiliki perangkat skill yang menuntut bos Anda untuk mengelolanya –generasi serba bisa, dan memiliki sedikit kesabaran untuk meeting panjang
.
4. Jadi, Anda diharapkan lebih berdaya dan lebih bagus dalam memecahkan persoalan –dibandingkan generasi pendahulu Anda. Tentu saja, jika teknologi dengan sangat efektif bisa meningkatkan efisiensi kerja, dia juga bisa mengganggu produktivitas. Teknologi membawa dampak (buruk) di kantor. Pekerja kini punya jaringan email yang harus selalu dicek, ada video-video dari YouTube yang bisa dilihat setiap saat, dan gamerealitas virtual yang bisa dimainkan sambil bekerja. Semua itu menuntut perusahaan untuk melakukan pengawasan, dan bila perlu tindakan pencegahan.

5. Bagaimana dengan gaji? Penting untuk diketahui sejak dini, meskipun harapan terhadap diri Anda terus meningkat, tapi gaji rupanya belum mengikuti. Berbagai riset menunjukkan, kesenjangan (gaji) antara top management dengan karyawan "biasa" masih akan lebar. Jadi, Anda harus tetap kerja keras dan mencapai puncak untuk mendapatkan gaji tinggi.

6. Yang jelas, kini Anda tahu bahwa kaum pengusaha telah dan semakin peka untuk membahagiakan karyawan dengan berbagai bentuk fasilitas. Namun, Anda juga perlu tahu bahwa kini mulai muncul kader baru karyawan yang bekerja pada bidang-bidang pekerjaan yang ekstrem. Extreme job. Harvard Business Review mendefinisikannya sebagai pekerjaan yang dilakukan oleh para profesional bergaji tinggi yang bekerja dengan gila: cepat, dibawah deadline ketat, bekerja sampai di luar jam kerja reguler, siap sedia untuk klien 24 jam sehari 7 hari seminggu, berada di kantor sedikitnya 10 jam sehari, sering bepergian, pekerjaan mengandung banyak hal tak terduga, dan memiliki tanggung jawab yang luas.

7. Fakta-fakta: The Hidden Brain Drain Task Force, sebuah kelompok pemantau tren dunia kerja di AS mensurvei 6% individu bergaji paling tinggi secara global. Hampir 10% dari para super worker itu menghabiskan lebih dari 100 jam setiap minggu untuk pekerjaan mereka. Empatpuluh dua persen mengambil 10 hari libur setiap tahun, dan beberapa dari mereka mengaku selalu menunda rencana liburan mereka.

8. Apakah Anda terobsesi menjadi pekerja ekstrem seperti itu? Sejumlah pengusaha yang smart, bagaimana pun, akan mencermati efek-efek jangka panjang dari pekerjaan-pekerjaan ekstrem dan mendorong para pekerja-super itu untuk lebih memperhatikan keseimbangan hidup dan kerja.

9. Ngomong-ngomong, apa karir masa depan yang tengah atau akan Anda incar? Mungkin akuntan, manajer, tenaga pemasaran, atau peneliti? Atau, mungkin Anda baru saja merasa bahwa Anda punya energi besar untuk mencoba pekerjaan ekstrem? Permintaan terhadap pekerjaan ekstrem memang akan terus meningkat, tapi jika kita melihat lebih jauh ke depan, pekerjaan-pekerjaan baru yang eksotik akan lebih terbuka.


Jangan takut kawan,, kehidupan itu terdiri dari 1001 macam keinginan,,, akan tetapi pada akhirnya akan berakhir pada 1 hal... selama kita masih bisa bernafas, masih banyak kesempatan untuk kita. dan tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berusaha, bekerja dan berdoa....
Read More --►

Career Plan : Jalur Karir yang Harus Anda Tempuh

Bagi sebagian besar orang, meniti karir sebagai pekerja profesional hingga ke puncak tangga prestasi merupakan sebuah impian yang layak dirawat dengan penuh kesetiaan. Sebab disana terbentang sebuah janji kemakmuran finansial yang layak dikejar. Sebab disana terbentang pula sebuah impian kehidupan yang mapan and a dream to build a happy family.
Namun tentu saja, pendakian menuju tangga karir yang makin menjulang bukan sebuah proses yang mudah. Sebagian orang mungkin bisa menembus jalan yang berliku itu, dan tiba pada destinasi karir yang diharapkan. Sebagian yang lain mungkin stuck on the middle of nowhere. Kita ndak tahu apakah Anda akan masuk kategori yang pertama, atau nyungsep pada golongan yang kedua.
Pertanyaan yang lebih fundamental mungkin adalah seperti ini : lalu kira-kira jalan karir semacam apa yang layak ditempuh, dan pada fase usia berapa saja career path itu harus dilalui?
Dari sejumlah studi mengenai career path (jalur karir) kita bisa membayangkan pergerakan karir seperti berikut ini.
Usia 22 – 25 tahun. Entry Level : staf, pelaksana, atau management trainee.Ini adalah pintu gerbang pertama yang harus dilalui oleh semua orang yang mau merajut sebuah karir yang panjang. Dalam rentang usia itu, seseorang yang baru saja mendapat gelar Sarjana S-1 bisa masuk menjadi karyawan untuk posisi entry level; misal sebagai staf, officer atau masuk dalam program management trainee/management development program (sebuah program penyiapan kader pimpinan dan biasanya mempunyai pola career fast track – karirnya bisa cepat melaju).
Usia 26 – 29 tahun . First line leader : supervisor/asisten manajer.Setalah dua atau tiga tahun menjadi staf, mestinya kita sudah bisa bergerak untuk menjadi asisten manajer (dalam usia 26 tahunan). Disini kita sudah mulai diuji kecakapan leadership-nya. Inilah sebuah fase dimana kita bisa mendapat bekal yang berharga untuk mendaki menuju karir yang lebih tinggi.
Usia 29 – 35 tahun. Middle Management : Manajer.Dalam rentang usia ini, semestinya kita sudah harus menapak jalan karir sebagai manajer (entah menjadi Marketing/Brand manager, HR manager, Finance atau IT Manager). Kalau dalam rentang usia ini kita masih belum juga menjadi manajer, mungkin saatnya kita harus melakukan self exploration : dan kemudian merajut action plan apa yang harus segera dijalankan.
Usia 36 – 42 tahun. Senior Management : General Manager/VP/Senior ManagerDalam rentang usia ini, kita telah bergerak menduduki posisi sebagai senior manajer (general manager atau vice president). Inilah fase usia menuju puncak kematangan; dan tentu saja limpahan fasilitas benefit dan gaji yang besar dari perusahaan.
Usia 42 tahun dan seterusnya. Top Management : Direktur/Managing Director/C-Level.Dalam usia 40-an tahun, mestinya kita sudah bisa menjadi direktur. Beberapa bulan lalu, dua teman saya yang masing-masing masih berusia 39 tahun dipromosikan menjadi direktur pada dua perusahaan besar multinasional. Kalau kita baru menjadi direktur pada usia 47 atau 50 tahun, wah ya sudah terlalu tua ya.
Itulah peta atau jalur pergerakan karir yang mungkin harus kita lalui. Ada tiga catatan yang layak disampaikan berkaitan dengan jalur karir diatas.
Yang pertama, jalan karir kita akan relatif lebih menjulang kalau kita bergabung pada perusahaan besar dengan skala region yang luas (kalau bisa skala global). Perusahaan semacam ini menjanjikan posisi karir yang lebih variatif, dan memudahkan kita melakukan mobilitas karir yang rancak.
Catatan kedua, peta karir diatas akan mudah terjadi pada perusahaan dengan kebijakan karir yang progresif, dan tidak melulu bersandar pada senioritas. Perusahaan yang meyakini bahwa setiap orang layak menjadi top talent tanpa memandang usia. Kalau ada anak muda yang kompetensinya sudah bagus, kenapa tidak kita langsung pilih dia menjadi managing director; meskipun usianya mungkin baru 38 tahun?
Catatan ketiga, peta karir diatas dengan mudah bisa dicapai jika kita bisa bergabung dengan perusahaan/anak perusahaan atau unit bisnis yang tengah tumbuh. Artinya kita terlibat sejak perusahaan ini kecil lalu tumbuh menjadi raksasa. Banyak kisah dimana profesional muda yang karirnya melesat lantaran ia turut membidani proses tumbuhnya perusahaan itu sejak kecil hingga menjadi besar. Karir Anda tumbuh sejalan dengan melesatnya bisnis perusahaan dimana Anda berkarir.
 Selamat bekerja dengan produktif. Dan semoga perjalanan karir Anda selalu dilimpahi keberkahan oleh Sang Maha Penentu Karir.
Read More --►

Wednesday, July 17, 2013

Kota Casablanka

Bañgunañ megah itu sangat membuat orang yang lewat ingin melihatnya dan mengusik rasa keingin tahuannya. Pagi itu saya coba menyinggahinya sekedar untuk mencari sarapan, duduk tenang, minum kopi, roti bakar sambil menikmati view sekitar bangunan megah tersebut.

Setelah keluar dari mobil dan mengarah ke pintu masuk saya sudah disambut senyum ramah security yang membukakan pintu. saya bilang kepada istri saya... lihatlah... sampai pintu saja ada yang mengurusi dan dia dibayar hanya untuk menjaga  dan membukakan pintu masuk kepada setiap pengunjung yang datang. saya coba perhatikan sekelilingnya bahwa hanya dia sendiri yang berada disekitar pintu masuk itu tanpa pengawasan.
Setelah didalam... kami langsung masuk ke meja informasi dan menanyakan lokasi tujuan kami. senyum ramah dan sapaan selamat pagi menghampiri kami dari sepasang costumer service yang mengenakan pakain adat jakarta. saya coba perhatikan kembali sekitarnyà dan nya hanya mereka berdua yang ada disana. saya menuju restroom dan saya melihat pasukan berseragam coklat sedang berkumpul dengan satu org yg berseragam putih sebagai pembicaranya. setelah itu mereka sudah berada di posisi masing2. ada yg mulai menuang terugu, membuat coklat pasta dan ada jg yg merapihkan tampilan nampan roti. saya lalu menuju warung kopi yang berada disudut.  memesan segelas kopi thailand, iced cappucino, roti bakar keju. saya pandangi kembali sekeliling dan saya melihat para pramusaji tersebut berada pada posisinya masing2 dan mereka bekerja sesuai dengan pekerjaannya. semua berseragam sama dan saya berusaha mecàri yang menggunakan seragam berbeda tapi saya tidak menemukannya.
saya coba beranikan diri dan bertanya kepada beberapa pramusaji yang ada disana.. sikap mereka dalam menyapa pelanggan sangat ramah. kamu sudah berapa lama kerja disini? ada yg menjawab baru 6bulan dan ada yang menjawab sudah 1tahun. berapa gaji yang kalian terima? dan mereka menjawab UMR pak, kecuali Captain yang berbeda. oke thanks yah selamat bekerj kembali.
apa yang bisa kita lihat dan pahami dari yang tergambarkan diatas...
satu kata dari saya "PROFESIONALISME"
itulah pelajaran yang sangat berharga buat saya dan istri saya.
Pertanyaan saya hanya satu ; Seberapa Profesionalkah kita dalam menjalani pekerjaan yang kita miliki sekarang?? apakah kita kalah dengan para security atau pramusaji dan costumer service disebuah mall besar?
mari kita bercermin bersama dan semoga ini bisa menyadarkan kita akan arti kata profesionalisme dalam dunia kerja.


tetap semangat sahabat... kesuksesan bukan pemberian Tuhan... tapi kesuksesan adalah buah kerja keras kita sendiri
Read More --►

PRAKATA

Persaingan dalam dunia usaha yang semakin tajam dari waktu ke waktu menjadi fokus perhatian para pengusaha untuk dapat tetap exist dan mampu bersaing baik di pasar domestik maupun global. Untuk memenangkan persaingan, para pengusaha dituntut untuk meningkatkan daya saing dengan mempertinggi effisiensi, menekan biaya produksi dan meningkatkan kwalitas produk. Selain persaingan harga produk, persaingan masih dilanjutkan pada peningkatan mutu pelayanan dan kepuasan pelanggan, agar pelanggan tidak ingin mencari produk lain dari para kompetitor.
Meskipun para pengusaha telah menerapkan pola yang sama dalam meningkatkan daya saing, namun hasilnya belum tentu sama. Perbedaannya terletak pada kemampuan dan keandalan dari segenap karyawan sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) yang merupakan motor penggerak untuk menggerakkan semua upaya dalam meningkatkan daya saing di masing-masing perusahaan.
Oleh karena itu diperlukan penanganan khusus untuk rekrutmen karyawan, untuk menangani karyawan di luar core business perusahaan serta untuk penanganan karyawan sementara (temporary workers). FREYA CONSULTING & TALENT AGENCY didirikan untuk menjawab permasalahan diatas dengan mengambil alih sebagian tanggung jawab perusahaan dan resiko yang begitu besar dibidang ketenagakerjaan serta menjadi solusi bagi para pencari kerja untuk mendapatkan kesempatan kerja, sehingga FREYA CONSULTING & TALENT AGENCY sebagai mitra dapat menjembatani kepentingan perusahaan dan para pencari kerja untuk menempatkan tenaga kerja handal dan berkwalitas yang akan meningkatkan daya saing perusahaan.
“Bersama FREYA CONSULTING & TALENT AGENCY kita berkarya dan bersinergi untuk maju bersama dan ikut membantu Pemerintah dalam mengurangi angka pencari kerja yang ada di Indonesia”.

Bening Windy Martias SH.
Owner
Read More --►

VACANT POSITION 2013

1. National Sales Manager (F&B and FMCG)
2. Accounting Manager (F&B and FMCG)
3. Accounting Supervisor (F&B and FMCG)
4. Accounting Staff (F&B and FMCG)
5. Account Executive (Horeca)
6. Sales Manager (Water Treatment)
7. Technikal Manager (Water Treatment)
8. Marketing Support (Water Treatment)
9. Administrasi (Water Treatment)
10. Engineering (Water Treatment)
11. Drafter (Water Treatment)
12. Marketing Dept Head (For Financial Company)
13. Manager IT (For Financial Company)
14. IT Programmeer Staff  (For Financial Company)
15. System Analyst Staff  (For Financial Company)
16. Risk Analyst Staff (For Financial Company) - prefer Math ,Statistic
17. Credit Analyst (For Financial Company)
18. SPG / SPB Reguler (Sogo / Ace Hardware / Foodhall)
19. Captain / Waiterr / Waitress
20. Receptionist
21. Staff Administrasi
22. Teknisi
23. Sales Counter (HONDA MOBIL)
Read More --►